Pertanian Alami, Pangan Sehat: Mengakui Kontribusi Perempuan Pedesaan di Hari Internasional Perempuan Perdesaan

Oleh Ika N. Krisnayanti

Setiap tanggal 15 Oktober, dunia memperingati Hari Internasional Perempuan Perdesaan (International Day of Rural Women), sebuah momen yang diresmikan Majelis Umum PBB melalui Resolusi 62/136 pada 18 Desember 2007, dan pertama kali diperingati secara resmi pada 15 Oktober 2008. Hari ini ada untuk mengakui satu hal yang sering terlupakan, bahwa perempuan pedesaan adalah tulang punggung ketahanan pangan dunia, namun kontribusi mereka jarang terlihat dan jarang dihargai setimpal.

Di Indonesia, salah satu wajah dari kontribusi itu adalah Bu Mubayyinah (72), seorang perempuan dari Dusun Pesantren, Desa Merden, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara, Jawa Tengah, yang membuktikan bahwa kembali ke tanah bukan berarti mundur, melainkan memilih jalan yang lebih berani.

Woman farmers on their way to their field. Photo by Mufid Majnun on Unsplash

Pertanian Alami: Menyembuhkan Tanah yang Sakit

Bu Mubayyinah tidak pernah menyangka jika tujuan awal ia bertani secara organik akan berkembang sejauh capaiannya hari ini. Ketika ia menerima amanat dari almarhumah ibundanya untuk kembali ke desa dan melanjutkan usaha tani keluarga, ia pun mengubah haluan bahtera hidupnya, dari perempuan pengusaha di Jakarta menjadi petani di desa.

Sebelum menjadi petani, Bu Mubayyinah adalah seorang pengusaha konveksi yang sukses di Jakarta. Ia rela meninggalkan kampung halaman dan orang tua demi mengadu nasib di ibu kota. Namun ketika ibundanya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit, Bayyinah tak berpikir panjang. Ia memutuskan pulang, meninggalkan usaha yang sedang berkembang. Berbekal tekad kuat akan membebaskan tanah yang telah rusak akibat asupan pertanian yang membuat ibundanya terlilit hutang hingga akhir hayat, Bu Mubayyinah memulai usaha tani dengan memperbaiki kesehatan tanah sawahnya yang ternyata “sakit parah” akibat penggunaan bahan-bahan kimia pabrikan selama bertahun-tahun.

Menurut Bu Mubayyinah tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman yang sehat, selanjutnya tanaman itu akan menghasilkan pangan yang sehat. Pangan yang sehat akan membantu membuat tubuh orang yang memakannya menjadi sehat pula, dan pikiran yang sehat. Maka pada awal tahun 2000-an, mulailah ia berguru ke berbagai kalangan, mulai dari menggali ilmu dari seorang profesor di universitas tempat anaknya menuntut ilmu di Bandung, sampai ke petani-petani yang telah lebih dulu berkarya.

Langkah pertama Bu Mubayyinah dalam menyembuhkan tanahnya adalah menggunakan pupuk kompos dalam jumlah besar, yang ia taburkan ke lahan sebelum ditanami. Ia juga berburu gedebog (batang) pisang, mencincangnya, lalu menebarkannya di lahan sawah. Limbah organik inilah yang merangsang pertumbuhan mikroorganisme lokal di dalam tanah. “Kita harus tanam sesuai kemauan tanaman. Biarlah mikroba di dalam tanah tetap hidup,” katanya. Dengan cara ini, ia secara perlahan berhasil menyuburkan kembali lahan yang telah rusak berkepanjangan akibat ketergantungan pada bahan kimia sintetik.

Bu Mubayyinah mempraktikkan pertanian alami. Ia tidak lagi menggunakan bahan-bahan kimia sintetik untuk membudidayakan tanaman padi, sayuran, dan ikan-ikan peliharaannya di kolam sekitar rumah. Pupuk kimia, pestisida kimia, dan pengatur tumbuh pabrikan sudah lama ia tinggalkan. Bu Mubayyinah membuat sendiri input-input pertanian yang dia butuhkan.

“Dengan melakukan praktik pertanian alami, sesungguhnya sangat membantu ibu-ibu petani, meringankan tugas mereka,” ujar Bu Mubayyinah. “Karena kita bisa membuat sendiri input yang diperlukan tanaman dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar lingkungan kita”.

Kerja keras Bu Mubayyinah terbukti membuahkan hasil yang nyata. Tanpa pupuk dan pestisida kimia, lahan organiknya justru menghasilkan panen yang lebih tinggi dibandingkan saat dikelola secara konvensional. Di lahan seluas 100 ubin yang sebelumnya hanya menghasilkan maksimal 1 ton, setelah dikelola secara organik mampu menghasilkan 14 kuintal. Ia pun tidak lagi dipusingkan oleh biaya pupuk kimia atau berebut pupuk subsidi dengan petani lain.

Beras organik produksinya tidak pernah mengalami masalah penjualan. Konsumen pun menyukai produknya, pemasaran berkembang dari mulut ke mulut hingga rumah sakit, herbalis dan dokter menyarankan pasien mereka untuk mengkonsumsi beras organiknya.

Menjawab Tantangan Perubahan Iklim

Metode bertani yang ia terapkan juga menjawab tantangan pemanasan global dan perubahan iklim, seperti menanam padi yang adaptif terhadap perubahan iklim, menerapkan pengairan padi secara berselang (intermitten irrigation).

Dengan mempraktikkan sistem pertanian yang ramah lingkungan ini, Bu Mubayyinah yang pernah terlibat dalam sebuah penelitian mitigasi gas-gas rumah kaca dari sawah, dapat menemukan bukti bahwa padi yang dikelola dengan input bahan-bahan organik dan dilakukan pengairan berselang, dapat menurunkan emisi gas rumah kaca seperti metana dan karbondiksida. Penelitian tersebut dilakukan, antara lain bersama, dengan Kementerian Pertanian, Kementrian Kehutanan, Bappenas, Pemerintah Daerah Banjarnegara, dan GIZ. Bagi Bu Mubayinah, hasil penelitian tersebut semakin meneguhkan hatinya untuk tetap melakukan pertanian alami.

Kontribusi Perempuan Perdesaan: Lebih dari Sekadar Angka

Menghargai sumbangan perempuan pedesaan, termasuk perempuan adat, baik pekerjaan yang dibayar maupun tidak dibayar, dalam mempertahankan hidup keluarga dan masyarakat adalah sebuah kontribusi yang sangat berarti bagi perempuan.

Hampir separuh penduduk dunia adalah perempuan, dan 40% merupakan tenaga kerja pertanian. Namun hanya kurang dari 20% jumlah perempuan yang menjadi pemilik lahan. Pekerja perempuan di sektor pertanian juga dibayar hampir 20% lebih rendah dari rekan laki-laki mereka. Ketahanan pangan, pembangunan pertanian, dan pengentasan kemiskinan desa tidak akan terjadi tanpa perempuan perdesaan.  

Ketika perempuan petani diberi ruang yang bermakna untuk berpartisipasi, manfaatnya akan mengalir ke keluarga. Ketika perempuan mendapatkan pendidikan atau keterampilan dan didukung dalam praktik-praktik pertaniannya, mereka mampu bertahan dalam berbagai krisis.

Seperti saat pandemi COVID-19 terjadi, kelompok perempuan yang telah dilatih keuangan (financial literacy) dan didukung praktik pertaniannya, mereka mampu berproduksi dan menjual produk-produknya secara langsung melalui pemasaran secara digital di media sosial mereka. Dimulai dari hal yang paling sederhana, baha perempuan mampu membedakan antara kebutuhan versus keinginan, perempuan memperoleh daya tawar di tingkat rumah tangga dan dalam kelompok tani.

Indonesia masih membutuhkan affirmative action oleh tokoh formal maupun non formal untuk memberikan kesempatan bagi perempuan untuk eksplor pikiran dan perannya di publik berbagai level. Mulai dari kampung, desa, daerah, dan nasional.

Di usianya yang ke-72, Bu Mubayyinah telah membuktikan bahwa pilihan kembali ke tanah bukan kemunduran, melainkan keberanian untuk membangun dari akar. Lahannya yang dulu sakit kini subur kembali. Berasnya yang dulu tidak bernilai kini dicari banyak orang. Dan yang paling penting, praktiknya menunjukkan bahwa perempuan pedesaan bukan hanya penerima manfaat pembangunan pertanian, melainkan penggerak utamanya.

Di Hari Internasional Perempuan Perdesaan ini, mengakui kontribusi mereka bukan sekadar peringatan seremonial. Ia adalah panggilan untuk membuka ruang, ruang akses lahan, ruang pendidikan, ruang partisipasi politik, agar perempuan seperti Bu Mubayyinah tidak menjadi pengecualian, melainkan menjadi keniscayaan.

Ika N. Krisnayanti adalah Sekjen Komite Nasional Pertanian Keluarga (KNPK), ia juga merupakan bagian dari Aliansi Petani Indonesia (API). Sehari-hari ia membantu pertanian keluarganya di Desa Rakit, Banjarnegara, Jawa Tengah.

Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili posisi resmi Perkumpulan Tanah Air Udara (TAU) maupun institusi lain yang disebutkan di dalamnya.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest